GURUKU, Ayah - Ibu Berbaju Kapur
Serasa rumah, walalau bukan sedang dirumah
Seolah ayah ibu berbaju kapur
Rupa ketegasan Ayah
Serasa kasih, perhatian Ibu
Seolah sedang menjahit benang kusut
ditarik dan dipelintir seolah benang lewati jarum
telinga dan aku yang hampir tak paham apa kesalahanku
di tarik dan dirapikannya aku, kelakuan tingkah sikapku
Didiknya tabah, Kala ku kurang tangkap
tegasnya suara
tuk ingatkan pesan ibu dan ayah
Bukan tuk jadi orang kaya
bahagia dan bangganya
jika jati diriku dapat ku temu'
Sejujurnya tak bernilai sen pun seribu
ilmu itu mahal bukan hasil sekedar datang dari khayal
sejujurnya tak dapat dibeli sekedar rupiah
jika ajar dan didiknya tulus
'kan nyata serupa Ayah dan Ibu, Bapa - Mamaku kala' ku dirumah
Dapat ku katakan tak seberapa, serasa cuma - cuma
karna hektaran rupiahpun dapat berkesudah' tak selamanya ada,
jika dibayarkan tuk Ia bimbingi aku nan belum paham akan apa - apa
namun tuntunan ilmunya bukan tuk sekedar tuntutan rupiah
dan karna keluh hatinya lelah merasa percuma, Jika sekedar Fikirku terbuka
namun nurani dan kata hati karakter sikapku belum melihat
Tuntunan ilmunya bukan tuk sekedar aku tahu dan 'laku ku bebas bertingkah,
ajari mentalku tuk tangguh, tapi tak kehendaki sikapku nan jadinya nanti acuh tak acuh
bukan tuk itu saja, ajari mentalku tuk tangguh walau tak baja
Didiknya ajariku tuk eja dan baca, bukan tuk kasar sarkas dan lancang
walaupun kadang ajarannya pahit buah maja, tuk bukakan aku yang punya mata
namun matanya, verba', tunjukan sedapatnya ku belajar
Pesannya saat di sekolah selalu seolah berkata; " Duduk di bangku, maka buku temanmu..'
'..dan duduk di meja makan, maka nasi dan lauk dari hasil keringat Bapa - Mama-mu
isikan perutmu, jika sayangi mereka maka tekunlah belajar, ajari diri, isi otak dan nalar,
rasa dan karsamu.."
dan lagi teringatku di kepala, "..makanan dapat kenyangkan dan dapat berlalu, tapi ilmu dapat
tersimpan dan dapat membuatmu maju.."
Peribahasa lama nan dibagikannya sela, pun usai materi selesai..
ketika belajar bahasa, dan Ia bilang nanti aku kan tau maknanya
"Dibalik rotan ada emas..' jika salah ditegur, tak main - main berlebihan
jika ingin jadi orang dengarkan orang lain
tempel bokong dan belakang di bangku
jadikan buku temanmu
bertemanlah dengan seorang penjual parfum, agar kau jua' dapat wangi
jika bergaul dengan seorang penjual ikan, maka kaupun dapat amis
jika bertemanmu dengan mereka yang baik maka kau menjadi baik,
kelak kau kan pahami apa maksudnya, kata guruku
namun sesuaikanlah diri dengan jeripayah si penjual sayur
pun penjual ikan amati kala' mereka berjualan
ambil baik dan buang buruknya..
si penjual nan duduk dan menunggu dengan sabar, menawar, bicara
tuk dapat makan..
Jua pepatah lama nan ajarkan tuk sabar dan menabung dari Ilmu hingga pundi
".. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya.."
Jaga tingkah - etika dimana kau berada
"..dimana langit di junjung disitu bumi dipijak.." ajarimu tuk selalu
jadi contoh dalam tiap tindak,
hingga pengingat kecil tuk selalu senyum, sapa - salam, saat bertemu tiap orang
pengingat tuk tak asal bicara depan nan' lebih tua
"..berakit ke hulu, renang ketepian..'
sakit dahulu, senang kemudin.."
ajariku tuk paham apa itu guna dari belajar, ceria, paham kapan tenang, dan kapan
tuk sopan bicara, tuk tumbuh kembang ku nanti sesudah selesai dari bangku sekolah..
Benarlah Ki Hadjar dewantara, dari depan mengarahkan, di belakang beri dorongan..
Tut Wuri Handayani, Guru di guguh dan ditiru..
(Versi Pendek / Lomba)
GURUKU, Ayah - Ibu Berbaju Kapur
Serasa rumah…
meski langkahku tak berpijak di halaman yang sama
Namun hangat itu nyata…
dalam sosok berbaju kapur di depan mata
Iya, dia bukan Ayahku
Namun tegasnya, tak kalah dari suara nan serupa
dan Iya, lagi dia bukan Ibuku
Namun rupa lembutnya, mampu redakan resah di dada
Saat aku salah, kalap, khilaf…
saat aku jatuh dalam tak tahu arah, entah harus kemana
Ia tak pergi…
Ia tetap ada tinggal, dan membimbing tanpa lelah
Aku… yang kusut seperti sekepalan benang tak terurai
Ditarik perlahan, diluruskan…
dipelintir alur, dengan sama - sama sabar…
untuk masuk pada ruang sesuai yang selama ini hampir kuabai
mengarah ke tujuan
serupa pada lubang jarum dan dijahit perlahan pada kain makna
Suara itu kadang keras
namun bukan untuk melukai
Melainkan untuk menyadarkan…
bahwa jalan hidup tak selalu baik-baik saja dilalui
Ia tak pernah berkata:
“Jadilah kaya… kejarlah dunia semata…”
Namun justru katanya kala tiap renungku,
seolah bak di relung berbisik:
“Temukan dirimu… maka hidupmu akan bermakna…”
Karena ia tahu…
Ilmu bukan sekadar angka
Bukan sekadar nilai perolehan semata
Namun suatu kelak…
di dampingi akhlak budi nurani kan berguna
yang akan menuntun ku kedepan pada dunia nan nyata
Ia ajarkan aku membaca
bukan hanya huruf, tapi kehidupan
Ia ajarkan aku bicara
bukan sekadar suara, tapi kesopanan
“Di bangku sekolah… buku adalah temanmu…”
“Di meja makan… ingat peluh orang tuamu, saat kau makan…”
Kalimat sederhana
pesan nan tak banyak kata yang tak boleh terlupa
Bahwa setiap suap yang masuk ke mulutku…
adalah doa panjang dari rumah yang tak pernah berhenti berharap
akan pundakku kedepannya...
Dan kini aku mengerti…
Mengapa kadang ajarnya terasa pahit, tak seperti segar manis buah
yang lebih seringnya malah kan jadi Maja di lidah
Karena hidup, tak selalu semudah balita nan akan terus manja pada Ibunda…
takkan selalu memberi rasa yang mudah
Ia siapkan aku…
bukan hanya untuk lulus
Namun untuk hidup
dengan sikap, dengan arah, dengan hati yang lurus
Dan hari ini…
aku berdiri, membawa semua ajaran itu dalam diam
Karena benar adanya
yang di depan memberi teladan
yang di tengah jua mengingatkan
dan yang di belakang memberi dorongan
Guruku…
namamu mungkin tak tertulis di setiap langkahku
Namun ajarmu…
akan hidup…
jadi serupa opsi dacin penimbang di setiap keputusan hidupku
(General)
GURUKU, Ayah - Ibu Berbaju Kapur (Versi Semi SMP–SMA)
Serasa rumah, walau langkahku di luar ruang
Seolah Ayah dan Ibu hadir dalam balut kapur yang tenang
Tegasnya menyerupai Ayah yang tak pernah goyah
Lembutnya mengalir, serupa Ibu yang penuh berkah
Saat aku kusut dalam salah yang tak terarah
Ia merapikan aku perlahan, tanpa pernah menyerah
Seperti benang yang ditarik, diluruskan dengan sabar
Dimasukkan ke jarum makna, agar aku mengerti benar
Didiknya tabah, meski pikirku sering lelah
Suaranya tegas, agar langkahku tak salah arah
Bukan untuk menjadikanku tinggi dalam harta yang megah
Namun agar kutemukan diriku, utuh dan bermakna indah
Ilmu tak ternilai oleh rupiah yang mudah berpindah
Ia hidup dalam jiwa, tumbuh tanpa pernah punah
Tulusnya ajar, serupa doa Ayah dan Ibu di rumah
Membimbingku diam-diam, dalam lelah yang tak berkeluh kesah
Ia tak sekadar ingin aku tahu lalu bebas melangkah
Namun ingin sikapku terjaga, tak jatuh pada angkuh dan salah
Mengajarku kuat, walau tak harus sekeras baja
Mengajarku halus, tanpa harus kehilangan arah rasa
Dari eja hingga baca, dari kata hingga makna
Ia tuntun aku melihat dunia dengan mata yang terbuka
Pesannya terngiang dalam ingatan yang tak pernah lelah:
“Di bangku sekolah, jadikan buku sebagai sahabatmu yang setia
Di meja makan, ingat peluh Ayah dan Ibu yang nyata”
“Makanan mengenyangkan, namun akan hilang seketika
Ilmu menetap, menuntun langkah menuju masa depan yang bercahaya”
Petuahnya sederhana, namun dalam maknanya:
“Rajin pangkal pandai, hemat pangkal sejahtera”
Dan lagi ia ajarkan dalam langkah dan rasa:
“Di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak dengan bijaksana”
Bertemanlah dengan baik, agar jiwamu ikut terjaga
Karena lingkungan adalah cermin dari siapa diri kita
Kini kusadari perlahan, dalam waktu yang berjalan
Guru bukan hanya pengajar, tapi penuntun kehidupan
Seperti ajaran bijak yang tak lekang dimakan zaman:
Di depan memberi teladan, di belakang memberi dorongan
Guruku…
Namamu akan tinggal dalam ingatan
Dalam langkah, dalam sikap, dalam masa depan
GURUKU (RA4P MODE)
Yo—
Di ruang kelas, bukan rumah tapi rasa tetap dekat
Ada figur berdiri, tapi maknanya lebih dari sekat
Bukan Ayah—tapi tegasnya bikin sadar arah
Bukan Mama—tapi lembutnya tenangkan resah
Aku datang kadang kosong, kepala penuh bising
Kelakuan masih mentah, sikap sering miring
Dia rapikan pelan—kayak benang kusut ditarik
Masukin ke jarum makna—pelan tapi pasti nancap, narik
Kadang suara naik—bukan marah tak beralasan
Tapi biar aku bangun dari pola yang berantakan
Dia bilang: bukan soal kaya, bukan soal gaya
Tapi soal siapa diri, dan kemana arah dibawa
Ilmu bukan receh—bukan barang buat dibeli
Ini bekal hidup, bro… bukan sekadar teori
“Duduk di bangku—jadikan buku jadi kawan”
“Duduk di meja makan—ingat rumah, jangan lawan”
Itu bukan kalimat biasa—itu realita keras
Setiap nasi yang kau makan—ada keringat yang deras
Dia ajar aku baca—bukan cuma huruf dan kata
Tapi baca dunia—mana yang benar, mana yang fana
Dia ajar aku kuat—tapi bukan jadi keras
Ajar rendah hati—walau nanti kau di atas
Lingkungan itu cermin—lu mau jadi apa?
Main sama wangi—ikut harum, itu fakta
Main sama amis—ya siap-siap bau juga
Itu hukum hidup—bukan sekadar cerita lama
“Rajin pangkal pandai”—itu bukan sekadar slogan
Itu jalan panjang buat keluar dari kebodohan
Sekarang gue paham—kenapa dulu ditekan
Ternyata bukan nahan… tapi lagi dibentuk perlahan
Dari depan dia contoh—dari belakang dia dorong
Bukan cuma ngajarin—tapi bikin gue kuat dan nggak kosong
Guruku…
Namamu mungkin hilang dalam daftar dan waktu
Tapi ajarmu…
tertanam keras dalam hidupku
—MY TEACHER —
A Father, A Mother Clothes in Chalk
It feels like home…
even when I’m far from home,
not at home
There’s a warmth in the room
standing right there…
dressed in chalk
looks like draw, and talk,
always taught about something
He’s not my father
but the way he speaks…
it steadies my direction
build me thru, slow but knowledge
She’s not my mother
but the way she cares…
it quiets the noise inside my chest
like a warmth hug without no less
And when I’m wrong…
when I’m lost…
when I don’t even understand my own mistakes
They told me they say, teach me
They don’t walk away
They stay
They take the tangled parts of me…
and slowly patiently
they begin to untangle
Like thread pulled through a needle
painful… sometimes
tight… sometimes
but always… shaping something whole
Yes
sometimes their voices rise
But never to break me
Only to wake me
Because life…
is not always soft
not always kind
not always easy
They never told me
“Be rich. Chase the world.”
Instead, they said
“Find yourself.”
“Because when you do…
your life will finally mean something.”
They taught me
knowledge is not just numbers
not just grades
not just ink on paper
It is light, just like a candle
The kind of light
you carry with you
long after the classroom is gone
They taught me how to read
not just words…
but the world
How to speak—
not just loudly…
but respectfully
“Let books be your companion in school…”
“And at the table, the dinning, you should remember
who worked for your meal…”
Simple words—
but they hit deep
Because every bite I take…
is built on sacrifice
on love
on hope that I will become… something better
And now… I understand
Why some lessons felt bitter
Because life doesn’t always taste sweet, to feels better
They were never just preparing me to pass
They were preparing me how to pass this live
To stand
with character
with purpose
with heart
And today…
I stand here
Carrying everything they gave me
even the things I didn’t understand back then
Because it’s true
Ing Ngarso Sung Tulodo,
Ing Madyo Mangun Karso,
Tut Wuri Handayani
In frond to lead by example
The Middle, building motivation among us
Behind giving supporting Encouragement
Dari depan memberi arahan, teladan, contoh
Ditengah memberi semangat, motivasi
Di belakang memberi dorongan, sokongan
Those who stand in front…
give us direction
Those who stand behind…
give us strength
My teacher…
Your name may fade
from pages
from time
from memory
But what you gave me
That stays
In every step I take
In every choice I make
Guru di guguh dan ditiru
It feels like home…
even when I’m far from it
There’s a warmth in the room—
standing there… dressed in chalk
He’s not my father
but his voice steadies my direction
She’s not my mother
but her care quiets the noise in my chest
And when I’m wrong…
when I’m lost…
They don’t walk away
They stay
They take the tangled parts of me
and patiently…
they untangle
Like thread through a needle
tight… sometimes painful…
but shaping something whole
Yes sometimes they raise their voice
but never to break me
Only to wake me
They never said,
“Be rich. Chase the world.”
They said,
“Find yourself.”
Because knowledge is not just numbers
not just grades
not just ink on paper
It is light
A light you carry
long after the classroom is gone
They taught me to read
not just words
but the world
To speak
not just loudly
but respectfully
“Remember your books…”
“And remember who worked for your meal…”
Simple words
but they stay
Because every bite I take
is built on sacrifice
on hope
on love
And now… I understand
Life isn’t always sweet
They were not preparing me to pass a test
They were preparing me…
for life
To stand
with character
with purpose
with heart
As it is said:
Ing Ngarso Sung Tulodo
Ing Madyo Mangun Karso
Tut Wuri Handayani
In front giving example
In the middle building spirit
Behindgiving strength
My teacher…
Your name may fade
But what you gave me
stays
In every step I take
In every choice I make
1
It feels like home…
even when I’m far from it
There’s a warmth in the room—
standing there… dressed in chalk
He’s not my father
but his voice steadies my direction
She’s not my mother
but her care quiets the noise in my chest
And when I’m wrong…
when I’m lost…
They don’t walk away
They stay
They take the tangled parts of me
and patiently…
they untangle
Like thread through a needle
tight… sometimes painful…
but shaping something whole
Yes sometimes they raise their voice
but never to break me
Only to wake me
They never said,
“Be rich. Chase the world.”
They said,
“Find yourself.”
Because knowledge is not just numbers
not just grades
not just ink on paper
It is light
A light you carry
long after the classroom is gone
2
“Remember your books…”
“And remember who worked for your meal…”
Simple words
but they stay
Because every bite I take
is built on sacrifice
on hope
on love
And now… I understand
Life isn’t always sweet
They were not preparing me to pass a test
They were preparing me…
for life
Komentar
Posting Komentar