Sakit dan Batasan
Seiring Jalan, semoga tak terlupa..
Izinkanku berkata qun-fayakun
qun-kata jadi maka jadi
hanya jika percaya pada pesan sabta' kata
pun suara lisan nan terucap, maupun tertulis
maka semua pun pasti kan terjadi
pesan adalah ikhtiar serupa pepatah latin ora - etlabora
kala seorang nan empunyai ilmu
bertutur dan berwasiat berikhtiar, meninggalkan pesan
sebelum ditinggalnnya dunia ditanggalkan
segalah selibat - keterlibatan sementara dan meninggal,
berpulang, rumah-Nya kembali Ramhmatullah...
ku dengarkan pepatah masih terngiang
nun ku ulang dengan tutur sedikit beda
tuk lebih kepada menjangkau apa nan terjeda
"Ikhtiar hati memeluk gunung, apalah daya tangan tak sampai
anggaplah khayalan bagi nan faham
megahnya gunung gambar kebesaran
tangan nan lemah tanda keterbatasan
bergantungku pada keterbatasan
tuk berbicara pada semesta
''ingin selalu ku peluk Surya sejati selalu
jikalau ku bisa...''
Segalah hal kodratik, tak terlepas dari tempatnya,
air berilir dari hulu ke hilir
bukit tinggi ke sungai
ajarkan semua berasal dari sumber
dan setinggi - tingginyapun kan kembali ke bawah
karna memang dikata manusialah tempat,
bagi batasan nan selalu, tak selalu lengkap
Tuhan beri sakit sebagai pagar
ingatkan kita akan segala batasan tubuh,
Selagi badan - raga kepada jiwa masih tersimbuh
selagi masih tak langsung tulang pada tanah
ditopag beralas daging masih tubuh - diri bersimpuh
selagi jika terluka serupa dahulu janji pahlawan
pada bibir terucap pepatah seolah sumpah;
'demi negara dikata darah mereka rela bersibah'
hanya kepada Tuhan disitulah harap dan doa
masih jadi harapan kita masih menimbah
hanya 2 imbuhan kata yang bisa menjelaskan
Ke dan An beri lengkapi maksud tujuan konteks bahasa
tanpa perlu narasi berpuluh - puluh
Ke-terbatas-an
kaidah dasar mengapa kita dikata ciptaan bukan pencipta
maka, jika menghadap kiblat masih kita meminta
Komentar
Posting Komentar